PALANGKA RAYA – Penjabat (Pj) Wali Kota Hera Nugrahayu angkat bicara terkait Indeks Kualitas Air (IKA) di Palangka Raya yang rendah berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi (Kalteng). Hera menegaskan jika pemerintah kota telah memberikan perhatian khusus perihal kualitas air di Palangka Raya.
“Kalau kita lihat, sumber air di Palangka Raya dari sungai. Kalau bicara sungai, maka kita cek dari hulu,” kata Hera, baru-baru ini.
Hera mengatakan, DLH provinsi memiliki data menyangkut kualitas lingkungan karena mencakup seluruh kabupaten dan kota. Dengan data tersebut, pihaknya akan memberikan atensi kedepannya. Meski demikian secara keseluruhan Hera menegaskan jika kualitas air minum PDAM telah dilakukan interpensi.
“Untuk air minum PDAM sudah ada standarnya sehingga bisa kita kontrol. Jadi kalau berbahaya gak mungkin lah karena sudah ada interpensi,” ucapnya.
Sekedar diketahui, secara keseluruhan DLH Provinsi Kalteng merelease data penurunan kualitas air untuk seluruh wilayah atau di 14 kabupaten/kota. Dimana mayoritas mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yakni 2022.
Sementara itu beberapa waktu lalu, Analis Lingkungan Hidup DLH Provinsi Kalteng Yanse Arfinando menyebut faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas air diduga disebabkan oleh musim kemarau pada tahun sebelumnya.
Dimana, musim kemarau menyebabkan kualitas air menjadi lebih pekat, debit air berkurang, disertai bahan pencemar yang justru boleh jadi meningkat, hingga menyebabkan konsentrasi air menjadi tinggi.
Faktor lain, berdasarkan Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) penentuan IKA adalah berdasarkan hasil pengujian laboratorium terhadap sampel air untuk delapan parameter wajib yaitu pH, TSS, TDS, DO, COD, BOD, NO3-N dan Fecal Coliform, dari parameter tersebut dapat dikatakan IKA di Kalteng berkaitan dengan kegiatan domestik masyarakat setempat.
Untuk Wilayah Kalteng seperti juga provinsi lainnya di Kalimantan yang mempengaruhi rendahnya nilai IKU adalah nilai BOD (Biological Oxygen Demand) dan Fecal Coliform. Hal ini tidak lepas dari karakteristik masyarakat Kalimantan yang hingga saat ini masih banyak tinggal di sepanjang aliran sungai.
“Aktivitas kegiatan masyarakat seperti MCK, beternak, budidaya ikan (keramba) hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan berakibat pada tingginya nilai parameter BOD & Fecal Coliform hingga melampaui baku mutu lingkungan,” ujar Yanse. (*)
![]()









































